Tepat 80 tahun lalu, 30 Oktober 1946 pukul 00.00, Oeang Republik Indonesia (ORI) mulai berlaku sebagai alat pembayaran sah. Bagi negara yang baru merdeka, uang saat itu adalah simbol kedaulatan.
Kini, di Hari Oeang Republik Indonesia ke-80, cara orang membayar sudah jauh berubah. Dari warung kopi sampai juru parkir, scan QRIS makin sering menggantikan uang kertas. Lalu, masih adakah masa depan bagi uang tunai?
Pandangan 1: Uang Tunai Makin Ditinggalkan
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, melihat arah perubahannya cukup jelas. Menurutnya, uang tunai akan semakin ditinggalkan dan digantikan pembayaran digital.
Kesiapan masyarakat, kata dia, sudah terlihat di lapangan. UMKM dan juru parkir kini banyak yang memakai QRIS. Penentu kecepatan peralihannya adalah seberapa cepat penetrasi digital menjangkau masyarakat.
Pandangan 2: Tunai Bergeser Jadi Cadangan
Ekonom BCA, David Sumual, punya pandangan berbeda. Uang fisik tidak akan lenyap, tetapi perannya bergeser menjadi instrumen sekunder atau cadangan. Salah satu alasannya adalah soal kepercayaan: sebagian masyarakat masih menilai sistem digital berisiko.
Ia memperkirakan lanskap pembayaran akan terbelah:
Perkotaan: transaksi digital mendominasi
Sektor mikro informal dan daerah dengan adopsi teknologi lambat: tunai tetap alat bayar utama
Jaring Pengaman untuk Daerah 3T dan Saat Bencana
Menurut David, uang tunai tetap penting bagi warga daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked). Tunai juga menjadi cadangan terakhir saat jaringan terganggu massal atau terjadi bencana alam. Riefky sepakat soal ini, tetapi menilai porsinya tidak besar.
Siapkah Indonesia Tanpa Tunai?
David menilai Indonesia baru siap sebagian menuju masyarakat minim tunai (less-cash society). Regulasi, kebijakan moneter, dan infrastruktur makro relatif siap, terlihat dari pesatnya perluasan QRIS. Namun menuju masyarakat tanpa tunai sepenuhnya (cashless society), Indonesia masih terganjal kesenjangan infrastruktur kota-desa dan rendahnya literasi digital di lapisan bawah.
Ia menyebut tiga pemercepat peralihan:
Infrastruktur telekomunikasi yang merata dan stabil
Literasi keuangan dan digital
Demografi muda yang melek teknologi, disertai insentif biaya bagi UMKM dan promo bagi konsumen
Dampak bagi Ekonomi Informal dan Peran CBDC
Riefky menilai peralihan ini bisa mendorong inklusi keuangan. Sektor informal akan lebih formal karena transaksi tercatat, sehingga porsi shadow economy menyusut. Meski begitu, bantuan untuk kelompok rentan seperti lansia dan warga 3T menurutnya sebaiknya tetap disalurkan tunai lewat cara konvensional.
Soal Central Bank Digital Currency (CBDC) yang sedang dikembangkan Bank Indonesia, Riefky memperkirakan akan makin mengurangi pemakaian uang kertas. Namun ia mengingatkan proyek ini masih berjangka panjang.
#HariOeang #HORI80 #QRIS #UangTunai #CashlessSociety #DigitalisasiEkonomi #BankIndonesia #InklusiKeuangan #EkonomiIndonesia



