Nyantai : Ketika Mall Didemo Karena THR Cair. Apa Sikap Kita?

Posted on

SIAPBACA.COM – Apakah THR kalian sudah cair ? jika sudah berarti kalian bisa saja menjadi pendemo dalam mall. tapi tak masalah ketika kalian melakukan aksi dalam mall, Yang jelas aksi kalian merupakan aksi damai ya. Damai dalam menyusuri tiap tokoh, damai dalam mencari diskon terbaik, dan damai ketika membayar barang pilihan kalian.

Jika THR kalian belum cair ada baiknya kalian menghindari mall karena kalian akan terjebak dengan demo dalam mall dan kalian tak bisa ikuti demo tersebut karena tak ada apa-apa yang bisa kalian serukan dan malah membuat kalian menjadi pusing, ingin mau ikuti aksi damai tapi tak sanggup untuk sampai kekasirnya.

Ketika mendekati hari raya idul fitri melakukan ziarah ke pusat-pusat perbelanjaan merupakan hal wajib yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini lumrah mengingat ketika hari raya menggunakan pakean-pakean baru sudah merupakan tradisi tersendiri. Dan tak hanya ketika hari raya, semasa liburanpun terkadang masih banyak yang menggunakan pakean baru mereka.

Kita balik ketopik awalnya mengenai keadaan mall menjelang  ramadhan telah usai.

Saya sebenarnya merupakan orang yang membenci untuk mengunjungi mall ketika padat-padatnya seperti sekarang ini. Jangankan untuk masuk ke mallnya, jalanan disekitarnya aja sudah seperti sedang memasukkan mobil di car wash yang jalannya sangat pelan-pelan karena sedang disemprotkan air tapi kalo ini sedang disemprotkan asap-asap kendaraan.

Kenapa saya harus tetap datang ke mall ? agar saya tak menjadi seperi maling kundang yang dikutuk oleh emak saya, karena tidak mengantarkan keluarga saya yang sudah jauh-juah datang dari daerah hanya untuk berbelanja dikota. Sayapun mengusulkan untuk menggunakan motor saja agar terhindar dari macetnya jalanan. Namun lagi-lagi ditolak oleh emak saya karena motor emak saya nanti rusak karena ngonceng empat, katanya.

Akhirnya setelah tidak menemukan titik temu antara kemalasan saya dan perintah emak, sayapun sudah melihat emak saya mulai mengeluarkan jurusnya. Membuat saya bergegas berangkat menggantarkan keluarga saya ke mall yang mereka inginkan.

Ketika baru memasuki ring 3 dari mall yang akan kami kunjungi intensitas kendaraan sudah terlihat dengan jelas. Jadi bisa kalian bayangkan untuk sampa melewati ring 1 mall tersebut harus berapa banyak pemeriksaan jalanan macet yang dilewati. Dan tidak sampai disitu saja kesulitan yang dialami, parkiran mall yang sudah bagaikan tumpukan mobil mainan dalam dos tentu menyulitkan saya untuk memarkirkan kendaraan.

Setelah bergelut dengan parkiran akhirnya saya bisa masuk ke mall tersebut. Awalnya saya mengira saya salah masuk pintu mall, sebab ketika melewati pintu masuk mall yang dapat saya aksikan dari mata saya sendiri keadaan mall yang menyerupai pasar. Dimana sangat ramai orang-orang yang ada dalam mall, sedikit berdesak-desakan dan pendingin udara mall yang menjadi seolah-olah tak berfungsi.

Sungguh ku ingin membalikkan tubuh dan berlari pulang lalu bersembunyi dalam kamar. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku yang sudah sampai disini tak bisa seketika melangkah untu pulang. Aku harus mengawasi keluarga yang kuantarkan jangan sampai mereka tersesat dan tak tahu arah jalan pulang lalu menjadi butiran debu seperti lagunya Cakra Khan.

Ternyata aksi damai dalam mall tak hanya ada satu. Tapi ada banyak aksi membuat pekerjaan saya menjadi ekstra.  Terlihat di salah satu sudut mall sedang ada terjadi aksi yang menyita banyak massa dan keluargakupun ikut kedalam massa itu. Sedang adanya mbak diskon 70% membuat toko tersebut didemo dagangannya. Orang-orang mengambil barang yang diinginkan lalu membawa paksa barang tersebut ketempat kasir. Sungguh aksi damai ini sedikit sadis karena terdapat penarikan paksa barang ke bagian kasir padahal belum tentukan barang ini mau meninggalkan toko yang telah merawat mereka. Namun hal ini tidak dapat dikenakan dengan tuntutan hukuman karena mereka mampu menebus barang tersebut.

Setelah aspirasi tersampaikan dan keiginan keluarga saya terpenuhi pada toko tersebur, akhirnya keluarga saya mulai berpindah ke tempat selanjutnya. Kali ini cukup unik kejadian yang ada disini, sebab toko ini tidak berlaku adil kepada barang didalamnya sebab jika membayar satu dapat mengambil satu barang  lagi yang sejenis atau lebih murah dibandingkan barang yang dibayar. Tentu saja ini merupakan bentuk ketidak adilan kepada barang-barang lain karena mereka tidak mendapatkan perlakukan yang sama. Dimana barang yang semakin mahal akan semakin aman dari diambil Cuma-Cuma dan barang yang murah mendapatkan resiko yang semakin besar untuk diambil Cuma-Cuma karena harganya di bawah barang lainnya.

Setelah lelah dengan banyak aksi yang diikuti keluarga saya dan telah banyaknya kantongan baru yang melekat ditangan mereka masing-masing . kamipun memutuskan untuk balik dan menyudahi pengalaman kami kali ini.

Disepanjang jalan tiba-tiba terlintas otak saya. “Kegiatan sekolah dan kampus masih sedang berlangsung tentu saja para pelajar belum bisa ikut aksi tersebut. Saya tidak bisa membayangkan ketika para pelajar telah mempunyai waktu untuk ikut aksi ini. pasti suasan mall akan cukup mencekam karena massa yang kian bertambah” piker saya.

Namun para pelajar harus menyikapi bagaimana hal ini ? bagaimana banyaknya diskon atau pembelian satu gratis satu oleh toko-toko yang menyebabkan mereka diserbu mereka harus bersikap seperti apa. Cukup diam di rumah dan memperhatikan saja atau ikut terjun langsung ke mall untuk menyuarakan aksinya. Terlebih lagi jika para pelajar juga telah dibekali dengan senjata THR dari keluarga mereka.  Sunggu aksi ini sudah tak bisa dibendung lagi.

Jadi jika kalian para pelajar akan menyikapi apa aksi damai dalam mall karena kejadian di atas ?

Penulis : Pokerface24