Rintik-rintik hujan membasahi pepohonan kala itu. Angin bertiup kencang, menerbangkan apa saja yang ia bisa. Langit menggelap. Dan tak ada yang ingin beraktivitas dihari yang merepotkan ini.
Jalanan sepi. Tak ada penghuni. Tapi, tidak dengannya. Dia menikmati apa yang telah tuhan berikan. Menari-nari sesuka hati, penuh kebahagiaan. Seperti tanpa beban tak memberatkan.
Hampir setiap hujan datang, gadis itu melakukan ritualnya. Dan hampir setiap hujan pula, pemuda itu memerhatikan seorang gadis pencinta hujan dari singgasananya, lewat jendela kamar lantai atas tempat tinggalnya.
Gadis itu tak gila, bukan orang autis. Gadis itu adalah gadis sederhana yang memiliki sejuta kajian cantik, cerita menarik. Dia gadis biasa namun tak menjadi biasa. Selalu menikmati hidup sebisa ia.
Pemuda itu ingin menghampiri, ingin beerkenalan dengan gadis seperti angsa di tengah danau. Tapi, sebelum keinginannya tercapai, rasa takut telah mendahuluinya.
Hingga bertahun-tahun lamanya. Dua puluh tahun telah lewat dengan seenak jidat. Secepat kereta express di kota-kota besar. Pemuda itu tak kunjung menghampiri sang gadis.
Hampir semuanya sama. Hampir tak ada yang berbeda. Hanya waktu yang telah berganti. Membuat semuanya tampak usang dan rapuh. Gadis angsanya tak lagi bermain dengan hujan. Tak lagi menyatu dengan rintik-rintik yang turun ke bumi. Gadis angsanya hanya bisa menatap hujan sambil menyentuhnya. Mungkin dia terlalu tua untuk bermain lagi.
Ya, mereka telah menjadi tua. Tak ada lagi kesempatan bagi pemuda itu jika dia tak menghampirinya. Ia sudah semakin renta.
Kali ini rasa takut harus bisa ia kalahkan. Berlari mengalahkan rasa takut yang miliki. Langkahnya pelan. Namun pasti. Tinggal 3 langkah lagi, pemuda itu tepat disamping gadis angsa.
Hening. Diantara mereka. Yang ada hanya suara rintik hujan yang pelan. Sang pemuda hanya diam, memunculkan keberanian. Tidak! Pemuda itu bukan pemberani. Tapi ia harus menjadi pemberani. Hari ini, pemuda itu akan mengutarakan perasaannya pada sang gadis yang tak ia kenal sepenuhnya. Hanya mengenal gadis itu dari jendela kamarnya.
Sang pemuda hanya memandang gadis didekatnya. Seandainya gadis itu mau menjadi teman hidupnya, pemuda itu akan sangat bahagia melewati sisa hidupnya. Pemuda itu akan menerima gadisnya dengan seutuhnya.
Perlahan gadis itu menangis dalam diam. Menangis bersama hujan, tak lagi bermain dengannya. Tangan pemuda terangkat, menghapus tetesan kesedihan gadis angsa.
Gadis angsa kaget. Mendapati seseorang selain dirinya, menyentuh pipinya.
“A.. an..da si..sia..pa?”
Tangan pemuda kini berganti posisi meraih tangan sang gadis. Menggenggamnya erat. Tentu gadis itu meronta, tapi pemuda tetap berusaha menenangkannya. Gadis itu akhirnya menyerahkan. Memilih diam dengan apa yang dilakukan pemuda yang tak dikenalnya.
“Maaf jika Saya lancang. Maaf jika saya mengagetkan Anda. Saya tahu, Anda tak dapat melihat Saya, namun..” Kalimat pemuda itu terpotong ketika tangan sang gadis mulai meraba wajahnya.
“Apakah Anda pemuda dibalik jendela?”
Gadis di hadapannya mulai menangis lagi. Dengan satu anggukan saja gadis itu telah mendapatkan jawaban dari pemuda.
“Hari ini Saya ingin mengutarakan perasaan Saya pada gadis pecinta hujan yang sudah dua puluh tahun Saya amati dan kagumi dalam diam. Umur mungkin sudah sangat tua untuk jatuh cinta. Bahkan sudah terlalu tua untuk memulai sebuah pernikahan”
Sang gadis mendengarkan secara seksama, tak ingin terlewat sedetikpun.
“Namun, sebelum semuanya sudah sangat terlambat, Saya ingin menjadikan Anda teman hidup Saya, menghabiskan sisa waktu yang kita punya. Saya mungkin tak mengenal Anda, dan Anda juga tak mengenal Saya. Namun, saya percaya bahwa Anda adalah hidup Saya. Saya berjanji akan menerima kekurangan Anda. Karena saya telah jatuh cinta pada kekurangan yang Anda miliki”
Tangisnya kini sudah menjadi kebahagiaan. Hujan telah menjadi saksi atas menyatunya mereka. Hujan selalu menjadi penting bagi sang gadis angsa. Tak ada yang menjadikannya teman sepanjang hidupnya. Namun, hari ini pemuda itu telah mengajaknya untuk menjadi teman hidupnya, selamanya.
Dan hujan bahagia atas kebahagiaan gadis angsa, si pencinta hujan.
Follow kami juga di:
Penulis: Aqifah
Kecoak termasuk dalam ordo Blattodea, kelompok serangga yang memiliki lebih dari 4.500 spesies di seluruh…
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk…
Langkah besar diambil Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar dalam mengatasi krisis sampah…
Siapa yang bisa menolak kesegaran nanas di siang hari yang terik? Buah bernama latin Ananas…
Kabar membanggakan datang dari SMAN 20 Makassar. Sebanyak 34 siswa dinyatakan lolos masuk Perguruan Tinggi…
Kabar gembira bagi pengguna transportasi publik di Sulawesi Selatan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi memberlakukan…