Baper

Hujan Deras Dan Pelangi

Hujan saat ini turun dengan begitu derasnya, namun anehnya aku merindukan pelangi. Iya… aku hanyalah hujan deras yang sudah tahu akan jatuh berkali-kali dan akan terus datang ketika Tuhan meninginginkannya dan kamu adalah pelangi yang sangat ditunggu-tunggu setelah hujan deras pergi.

Ada sebuah perasaan yang sulit untuk aku ungkapkan ketika kamu ada dihadapanku, aku selalu bermimpi untuk memiliki cahayamu yang mungkin akan mengalahkan cahaya bintang-bintang bahkan cahaya bulan ketika malam datang.

“kamu tau tidak refan apa yang paling menyedihkan dikala hujan datang membasahi bumi?” tanyaku, sembari menatap wajahnya

“rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, dan meninggalkan jejak yang perlahan pergi” jawabnya, dengan santai

“bener banget refan, kenapa yah hujan sejahat itu datang dengan derasnya, setelah itu menghilang secara perlahan-lahan.”

“salsa…hujan datang karna kehendak Tuhan, hujan tidak jahat, hujan datang karna setelah itu pelangi harus muncul. Kalau tidak ada hujan, berarti pelangi juga tidak ada deh.” Jawabnya, dengan serius

“iya refan… terserah kamu deh, yuk anterin aku pulang.”

Saat ini aku benar-benar hanya bisa menatap mu seperti ini saja, aku tidak berani melangkah lagi untuk menatapmu lebih dalam. Aku ingin agar aku bisa belajar lagi, jika masa kini aku sangat ingin memiliki cahayamu dan hampir saja membuatku gila.

Aku selalu ingin berdamai dengan hatiku, hal yang semula kita anggap mudah malah menjadi penghambat. Aku dan kamu memang seperti hujan deras dan pelangi, situasi yang seharusnya tidak pernah kamu sesali sepanjang hidupmu, tapi harus kamu jalani.

Ini bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, namun masih mungkin diatasi dengan satu kata “Lepaskan”, maafkan aku yang tidak berani memberi tahu semua yang ku rasakan bahkan setelah tahu kamu sebenarnya mengizinkan diriku untuk memiliki cahayamu, cahaya yang selama ini aku impikan.

“salsa… “ ujarnya

“kenapa, refan? Katanya kamu mau mengungkapakan sesuatu.” Tanyaku, dengan bahagia

“sebenarnya…. Hal ini sudah lama ingin aku ungkapkan ke kamu, tapi aku harus memastikan beberapa hal untuk mengungkapkan itu dan setelah aku memastikannya ternyata aku tetap tidak bisa menyelesaikannya walaupun aku berusaha agar inginku itu menjadi nyata…” ungkapnya, sembari menundukan kepalanya

“maksud kamu apa yah, refan?” tanyaku, dengan penuh rasa khawatir

“tentang perasaan kamu terhadapku, aku sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Bahkan jauh sebelum kamu memiliki rasa itu, aku sudah memelikinya lebih dulu.”

“jadi kamu mau, refan? Yah mungkin ini agak melawan budaya kita sebagai orang Indonesia, sebagai seorang perempuan haram menyatakan cinta duluan ke pria, tapi aku tidak mau menyesalinya seumur hidupku.”ungkapku

“maaf…” jawabnya, menarik nafas panjang dan langsung memelukku

“kenapa maaf?” tanyaku, tanpa ku sadari air mata mulai membasahi pipiku

“biarkan seperti ini selama 5 menit dan aku akan menjelaskannya” jawabnya, tanpa melepas pelukannya kepadaku

“baik.”

“jujur dari dalam hatiku yang paling dalam kamu pasti sudah mengetahui apa jawaban dari pertanyaan kamu itu, tapi… aku tidak bisa berada dalam hubungan itu, kamu dan aku seperti hujan deras dan pelangi. Hujan deras tidak bisa menemani pelangi sekeras apapun hujan deras atau pelangi mencoba untuk bersama tetap tidak akan bisa. Seperti yang aku katakan tadi, aku sudah berusaha mengatasinya namun, ternyata gagal.” Ungkapnya

“lalu?” tanyaku, dengan perasaan yang hancur

“aku harap kamu bisa terus menjadi pelangi setelah hujan deras pergi.”

Semenjak saat itu pelangi tidak lagi muncul menghiasi langit setelah hujan deras datang beberapa bulan setelahnya pelangi memilih hidup dengan berselimut, sedih dan sepi. Saat itu hujan turun, membuat semua orang yang tadinya berdiri di depan halte bus perlahan pergi meninggalkan tempat mereka berdiri dan hanya meninggalkan aku yang terpaku pada hujan yang memiliki memori sangat kuat bagiku, hari dimana aku harus melepaskan semua yang ku simpan sendiri dan berakhir menyakitkan.

Juga saat itu, aku sudah tidak pernah lagi menuggu pelangi muncul setelah hujan menghilang, bukan karna aku membenci pelangi, tetapi hujan tidak sanggup memberikan pelangi tempat untuk muncul di langit. Selamat tinggal pelangi, tetaplah berwarna indah dan menjadi pelangi yang sangat ditunggu.

Follow kami juga di:

Penulis: NFA

Disqus Comments Loading...

Artikel Terbaru

Di Tengah Ancaman Global, Cadangan Beras RI 5 Juta Ton, DPR Angkat Topi

Jakarta, – Di tengah tekanan global dan potensi gangguan pasokan pangan dunia, Indonesia justru menunjukkan…

1 month yang lalu

Sinergi Orang Tua dan Budaya: Kartini Fest 2026 SMANSA Makassar Berlangsung Meriah

Semangat perjuangan R.A. Kartini kembali bergelora di SMA Negeri 1 (SMANSA) Makassar. Melalui kolaborasi apik…

1 month yang lalu

SMA Negeri 1 Makassar Buka Pendaftaran Siswa Baru 2026, Simak Jadwal dan Jalur Masuknya!

​Unit Pelaksana Teknis (UPT) SMA Negeri 1 Makassar resmi merilis jadwal Sistem Penerimaan Murid Baru…

1 month yang lalu

Wujudkan Konektivitas, Pemprov Sulsel Mulai Pengaspalan Jalan Aroepala Makassar Melalui Proyek MYP

Kabar baik bagi warga Kota Makassar dan pengguna jalan lintas Kabupaten Gowa. Pemerintah Provinsi Sulawesi…

1 month yang lalu

​H-2 Minggu Batas Lapor SPT 2026: 11,2 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor, DJP Ingatkan Sanksi Denda

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat tren positif dalam kepatuhan perpajakan tahun ini. Hingga…

1 month yang lalu

Si Penyintas Tangguh: Mengenal Lebih Dekat Dunia Kecoak

Kecoak termasuk dalam ordo Blattodea, kelompok serangga yang memiliki lebih dari 4.500 spesies di seluruh…

2 months yang lalu