Aku Mungkin Menyebutnya dengan Ellipsism

Posted on

Menutup mata, berharap semuanya dapat kembali seperti semula, sebelum semuanya terasa menyakitkan. Semuanya tampak hitam pekat, dan tidak beraturan. Saya  ingin menangis untuk sesaat tanpa perlu memperdulikan apakah orang lain melihat ku sebagai manusia terlemah.

Sudah cukup lama saya harus menderita, menyimpan kepedihan cukup dalam, kekecewaan terhadap diri sendiri. Mungkin ketika saya bertemu dengan seseorang di luar sana, mereka akan memangangap saya adalah orang paling bahagia di muka bumi ini, sekali saja saya ingin berteriak dan menangis untuk mengatakan bahwa saya tidak baik-baik saja.

Terkadang satu waktu saya ingin tertawa, menertawai diri sendiri yang menyedihkan dan yang saya temukan adalah anak perempuan menangis… menangis dalam diamnya. Saya  ingin orang lain mengerti, tapi saya sendiri tidak mengerti tentang diri sendiri.

Rasa hancur dan hampa membuat saya semakin kecil dan berantakan, setiap kali saya bertemu dengan seseorang mereka hanya mampu mengatakan

“perbanyak istigfar”

“ingat Allah”

“kamu pasti bisa melaluinya”

“setiap orang pasti pernah diposisimu”

Saya hanya ingin mengatakan satu hal, apa yang kamu katakan terhadap orang seperti saya tidak akan pernah membantu dengan kalimat tersebut, karna apa yang aku rasakan saat ini bukanlah hal yang bisa hilang dengan hanya satu kalimat seperti itu.

Saya benci dengan diriku sendiri dan semua hal tentangku…

Orang lain tidak akan pernah tau betapa menyedihkannya memiliki segalanya dan masih merasa sangat sedih tanpa satu alasan pasti, itu sangat menyakitkan. Menyembunyikan semua bekas luka dengan kata bahwa kamu baik-baik saja itu tidak mudah.

Terkadang saya menjadi sedih tanpa satu alasan pasti yang mampu dijelaskan… satu hal terberat dari cerita hidup ini adalah berpura-pura bahwa kamu tidak merasakannya ketika berada di tengah keramaian

Aku mungkin menyebutnya dengan Ellipsism…

Namun, orang-orang menyebutnya dengan depresi.

Dari kecil semenjak ibu pergi, aku sangat pandai menghabiskan waktu ku dengan merangkai kata sembari mengkhayal, dari pada menghitung angka. Bagiku setiap kata-kata yang aku susun menjadi sebuah karya adalah ungkapan isi hati yang tidak bisa aku ungkapkan pada dunia dan sekelilingku.

Saya terkadang tersenyum dalam tangisan, dan tiba suatu hari saya memutuskan untuk mengkonsumsi obat tidur secara terus menerus, ketika perasaan itu muncul dan menyiksa ku. Mungkin itu kedengarannya sangat bodoh, namun percayalah pada saat itu, itu adalah solusi yang sangat tepat agar aku tidak terlalu jauh menyiksa diriku.

Namun, ditengah perasaan hampa, menyedihkan, dan apapun itu saya sangat bersyukur bisa memiliki seseorang yang sangat peduli dengan saya. Sangat bersyukur ada orang yang masih menghargai hidup saya, disaat saya tidak lagi mengingnkan kehidupan saya ini.

 “aku tau kamu akan kembali… kenapa kamu tidak langsung masuk saja keruangan saya?” ucap seorang dokter yang sudah menanganiku selama 1 tahun

“saya sedang menyiapkan diri, karna ketika saya melangkah melewati pintu ruangan anda, itu artinya saya mengakui apa yang sudah anda katakan pada saat konsultasi pertama saya.” Jelasku, sembari menarik napas pelan.

“saya mengerti apa yang kamu rasakan, tapi ketika kamu tidak melangkah dari tempat saat ini kamu berdiri. Maka, kamu tidak akan pernah berani. Pegang kata-kata saya, saya tidak akan berhenti untuk membantu kamu, terlepas dari semua masalah pribadi kita berdua.” Tegasnya

“saya semenyedihkan itu yah?” ucapku singkat

“lagi… aku harus bilang berapa kali, kamu tidak seperti apa yang kamu katakan, kamu tidak sendiri, aku ada dan siap mendengarkan semuanya sebagai seorang dokter, psikiater, dan pasangan kamu.” Ucapnya, sambil mengengam tangan ku

“Saya lelah, tolong …” ucapku dan tanpa sadar air mata ku jatuh

“tanpa kamu minta, aku sudah melakukannya dari awal, itu semua hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Aku hanya bisa menjadi pendengar dan pengingat, bahwa tidak segelap, menyedihkan dan sesepi itu.” Jelasnya, dengan nada yang mencoba menyakinkanku

“baik. Aku akan mencoba kembali memulai.” Ucapku

“aku akan mendukung kamu, sampai kapanpun, aku akan selalu ada. Aku janji.” Tegasnya dengan menatap mataku

Menyakiti diri sendiri sama dengan menyakiti hati orang lain yang sayang sama kita, saya tersadar dari semua itu ketika saya berani untuk mempercayai seseorang yang selama ini tetap berdiri disamping ku sebagai orang yang selalu bersedia menemaniku dan membantuku untuk bangkit. Dia mungkin bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, namun dia tidak pernah pergi meninggalkan ku sendiri

Bercerita… yup, seseorang yang mengalami depresi, yang mereka butuhkan adalah bercerita, didengar, dipahami, bukan dihakimi!!!

Semua itu aku dapatkan dengan kehadiran dia sebagai seorang psikiater mendadak untuk ku di tengah kesibukannya melayani para pasiennya.

Mungkin orang-orang diluar sana, akan mengatakan bahawa orang seperti ku itu,

Tidak dekat dengan Tuhan-Nya

Malas ibadah

Tidak bersyukur, dsb.

Saya tidak pernah menyalahkan pendapat orang-orang, dan saya pun tidak akan membenarkannya. Karna yah pada saat itu saya tidak cenderung mengenal agama dengan baik. Dan disisi lain  saya hanya bisa bilang “kalian tidak merasakan seberapa menederitanya orang depresi. Seberapa menderitanya menerima tekanan, seberapa menderitanya mental ini yang selalu menyalahkan diri sendiri.”

Dari semua hal ini, saya percaya dibalik semua yang saya alami dan lewati yang tampak seperti hujan deras yang tidak berhenti ini, ada rencana kehidupan yang Tuhan sedang persiapkan untuk ku, kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan.

Positive thinking. Waktu yang berbicara, dan waktu juga yang akan menentukannya. Jangan lemah dan mendekatlah kepada Tuhan.

Take it and live it all with a strong heart or leave it and suffering forever.

(nfa)